Cahaya Pendidikan di Pelosok Luwu: Kisah Heroik Esther Paudang, Finalis Anugerah Guru Prima PGRI Sulsel 2025

oleh -257 Dilihat
banner 468x60

Luwu, 4 November 2025 – Di tengah hiruk-pikuk era digital yang semakin maju, seorang guru di ujung negeri justru membuktikan bahwa inovasi pendidikan bisa lahir dari keterbatasan. Esther Paudang, S.Pd., guru sekaligus kepala sekolah di SMP Negeri 1 Sanggalangi Satu Atap, Desa Maindo, Kecamatan Bassesangtempe Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, menjadi bukti nyata. Baru-baru ini, pada 3 November 2025, ia tampil sebagai salah satu finalis Anugerah Guru Prima (AGP) PGRI Sulsel 2025 di BBGTK Makassar, dengan karya inovatif bertajuk “Kepemimpinan, Inovasi dan Menumbuhkan Jiwa Pembelajaran di Era Digital Daerah Sangat Terpencil”.94c9d4
Lahir di Lamasi pada 1 September 1970, Esther adalah lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari STKIP Cokroaminoto Palopo tahun 1995. Sejak ditugaskan pada 2015, ia menjadi satu-satunya Aparatur Sipil Negara (ASN) di sekolahnya yang terpencil. Bayangkan: merangkap jabatan sebagai kepala sekolah, guru, bendahara, hingga tukang kebun! Dana operasional sekolah hanya Rp3 juta per tiga bulan, tanpa Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena administrasi belum lengkap. Guru lain berstatus honorer, dan akses ke sekolah? Perjalanan 36 km dari kota terdekat melalui tanjakan curam, turunan berbatu, dan lumpur musim hujan—hanya bisa ditempuh dengan ojek motor profesional.
“Pernah jatuh dari motor, pernah cedera tangan, tapi kalau ingat anak-anak yang menunggu, semua lelah itu hilang,” ungkap Esther dengan tegar.5aaac5 Awalnya, sekolah hanya memiliki 12 siswa dengan fasilitas minim dan internet terbatas. Namun, Esther tak menyerah. Ia menciptakan program LENTERA DESA (Literasi dan Edukasi Numerasi Terpadu, Eratkan Relasi Anak dengan Ekosistem Alamnya). Di sini, alam menjadi kelas: siswa mengukur luas kebun untuk pelajaran matematika, memprediksi cuaca dari pengamatan lingkungan, atau menulis cerita dari hasil panen. “Kami belajar menghitung hasil jagung, memprediksi cuaca, menulis cerita dari pengamatan di kebun. Anak-anak jadi paham bahwa belajar itu tidak harus di kelas,” katanya.6cccad
Tak berhenti di situ, Esther meluncurkan Gerakan Mentor Siswa, di mana siswa kelas 9 mendampingi adik kelas. Ia libatkan masyarakat—petani, tokoh adat, dan orang tua—sebagai “guru tamu”. Hasilnya? Jumlah siswa melonjak, angka putus sekolah anjlok drastis, dan sekolah kini jadi pusat literasi desa dengan kegiatan mingguan membaca, menulis, dan berbagi ilmu. Bahkan di era digital, Esther perkenalkan literasi dasar menggunakan ponsel pribadinya: aplikasi Canva, Google Docs, plus edukasi keamanan siber. “Guru di daerah terpencil bukan berarti harus tertinggal. Justru kami harus jadi pelopor perubahan,” tegasnya.857ba4
Dampaknya luar biasa: partisipasi masyarakat meningkat, anak-anak lebih semangat karena merasa dihargai. “Ketika orang tua terlibat, anak-anak lebih semangat. Mereka merasa bangga karena sekolah menghargai kehidupan mereka,” ujar Esther.4a7a53 Sekolah yang dulu sepi kini menjadi oase pendidikan, menginspirasi kolaborasi dan pembelajaran daring meski sinyal sulit.
Mimpi Esther sederhana tapi mulia: laboratorium kecil, perpustakaan digital, dan asrama untuk siswa. “Saya tidak bisa menjanjikan banyak, tapi saya percaya, setiap langkah kecil bisa mengubah masa depan anak-anak,” katanya.ff9661 Kisahnya bukan sekadar cerita guru biasa, tapi teladan kepemimpinan melayani di tengah keterbatasan. Di saat banyak daerah pelosok masih berjuang dengan akses pendidikan, Esther membuktikan bahwa dedikasi satu orang bisa menyalakan lentera harapan bagi generasi mendatang.
Pengakuan sebagai finalis AGP PGRI Sulsel 2025 ini diharapkan membawa perubahan lebih besar, seperti dukungan infrastruktur dari pemerintah. Bagi kita, ini pengingat: pendidikan berkualitas tak mengenal batas geografis. Salut untuk Esther Paudang—pahlawan pendidikan dari pelosok Tanah Luwu!(*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.