Mengaji, Belajar, Menguatkan: Kiprah Madam Mazrah Yasir, Zidanne School, dan Mapala Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

oleh -136 Dilihat
Oplus_131072
banner 468x60

Madam Mazra bersama suami tercinta, Ust. Ashar Sabry selaku Ketua Yayasan Zidanne School, melakukan kegiatan pendampingan psikososial dan edukasi bagi anak serta keluarga penyintas bencana di wilayah Aceh Gayo. Kegiatan ini berlangsung dari 31 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Pendampingan dipusatkan di SD Negeri 10 Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tenggara, yang saat ini menjadi lokasi pengungsian bagi sekitar 200 kepala keluarga (KK) dari Kampung Palok. Para penyintas telah mengungsi selama kurang lebih 35–36 hari akibat bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut.
Tim pendamping terdiri dari Yayasan Zidanne School yang berkolaborasi dengan relawan dari Mapala Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, serta relawan lintas daerah dari Medan, Brastagi, Yogyakarta, Bandung, dan beberapa relawan lokal suku Gayo. Kehadiran mereka disambut hangat oleh masyarakat setempat.
Kegiatan Sekolah Darurat diawali dengan pembacaan Asmaul Husna, dilanjutkan dengan aktivitas mengaji, belajar, dan bermain yang dikemas sebagai upaya pemulihan psikososial anak. Program ini mengusung visi “Mengaji – Belajar – Bermain – Menguatkan”, yang menitikberatkan pada pemulihan mental, spiritual, dan semangat belajar anak-anak penyintas.

banner 336x280

Wilayah Gayo dikenal sebagai daerah yang religius dan damai, serta merupakan tanah asal Tari Saman dan Kopi Gayo yang telah mendunia. Meski ancaman banjir, longsor, dan gempa masih ada, masyarakat Aceh tetap menunjukkan keteguhan dan ketenangan dalam menghadapi kondisi pascabencana.
Salah satu kebutuhan mendesak yang teridentifikasi adalah Al-Qur’an dan Iqra, karena banyak mushaf hanyut atau rusak akibat banjir. Anak-anak penyintas mengaku sudah lebih dari sebulan tidak dapat mengaji. Saat mushaf dibagikan, mereka menyambut dengan penuh antusias dan langsung meminta izin untuk berwudu dan membaca Al-Qur’an bersama para pendamping.
Akses menuju lokasi pengungsian tergolong sulit. Perjalanan darat dari Medan menuju Blangkejeren dapat memakan waktu hingga 16 jam, dan bisa lebih lama jika jalur tertutup longsor. Kondisi inilah yang menyebabkan bantuan relawan dan logistik cukup terbatas.
Meski demikian, kegiatan pendampingan tetap berjalan dengan maksimal selama beberapa hari pelaksanaan. Tim berharap program ini dapat membantu memulihkan kondisi psikologis anak-anak serta memperkuat kembali aktivitas keagamaan dan pendidikan dasar di lokasi pengungsian.
Madam Mazra menyampaikan rasa syukur karena perjalanan dan kegiatan dimudahkan hingga dapat mencapai wilayah Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekkah atau titik awal Indonesia di bagian barat. Ia juga mengapresiasi keramahan serta keteguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi ujian bencana.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.